BELAJAR dari Kisah SYEKH ASY-SYA'RAWIY

Tahukah bahwa Syekh Mut'wali Sya'rawi rahimahullah sampai tahun ke-3 kuliah masih berusaha meyakinkan orangtuanya untuk mengizinkannya meninggalkan bangku kuliah dan bertani?

Ayahnya yang berteman dengan para masyaikh di kampung mempunyai cita-cita dan harapan masa depan untuk anaknya itu, ia memimpikan seorang ulama dan bukan seorang petani. cita-cita inilah yang selalu menggugurkan setiap usaha syekh Sya'rawi waktu itu.

Sang syekh memutar otak, ia pun berkesimpulan, jika meyakinkan ayahnya tidak mungkin, maka membuat biaya kuliah cukup tinggi dan tak terjangkau adalah mungkin. Syekh Sya'rawi mendatangi toko buku besar dan bersepakat dengan penjualnya sehari sebelum ayahnya datang dari kampung. Ia memesan buku berjilid-jilid, semuanya adalah bacaan yang diperuntukkan bagi masyaikh senior dan bukan muqorror (diktat kuliah).

Keesokannya Syekh Sya'rawi dan ayahnya mendatangi toko tersebut dan buku berjilid-jilid itupun diletakkan dalam kardus-kardus besar, ayahnya membayar tanpa menawar, ia hanya memandangi anaknya dan berkata "Semua buku ini adalah muqorror kamu?" dan sang syekh mengangguk.

Sesampainya di rumah, ayah syekh sya'rawi bersikeras menyampul semua buku, agar tidak rusak, ia melakukan itu sepanjang malam.

Paginya syekh Sya'rawi mengantar ayahnya ke stasiun kereta. Sebelum kereta melaju, ayahnya berkata "Sebetulnya saya tidak mau bilang, tapi saya khawatir nanti kamu menyangka bahwa orangtuamu bodoh dan ini mempengaruhi kamu. Saya tahu bahwa semua buku yang kita beli kemaren bukanlah muqorror, dan ini hanya akalan kamu, tapi saya tidak marah saya hanya mendoakan semoga Allah memberi kamu manfaat ilmu yang terdapat pada buku-buku itu dan kamu diberi kemudahan memahaminya...."

Selain perasaan berdosa, perasaan takut dan malupun menghampiri diri syekh sya'rawi membayangkan omelan masyaikhnya kalau nanti dia pulang kampung. Ia memutuskan untuk betul-betul mempelajari buku-buku itu,  bukan hanya membaca, tapi mengkaji dan menghafal, dan subhanallah pada buku-buku itu kecintaannya pada ilmu mulai tumbuh dan semangatnya mengejar ketertinggalannya  terus membara.

Doa tulus seorang ayah menghantarkan anaknya menjadi imamul du'aa, sikap bijaknya bukan hanya menjadi gizi bagi otak sang anak tapi juga telah mendidik mentalnya. Pengorbanan, doa dan keikhlasan tidak pernah hilang sia-sia,  karena Allah tidak pernah lupa.

Ayo doakan anak walau marah, ayo kejar ketertinggalan, ayo belajar, ayo taubat, ayo beramal...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Membuktikan Eksistensi Tuhan" Apakah menjadi salah satu alasan Al-Quran diturunkan?

Grand Syekh Al-Azhar adalah juga Syekh Islam & Umat Islam

Itu (KAMU)